Ket. Pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) yang digelar 13-23 Februari 2025 di Jakarta.
KABARI.COM, SURABAYA - Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan bahwa adanya komitmen empat perusahaan otomotif yang berasal dari Tiongkok dapat membawa dampak positif bagi industri hingga pengembangan teknologi di Tanah Air.
“Investasi empat perusahaan otomotif Tiongkok tampaknya akan membawa dampak positif bagi industri otomotif Indonesia, termasuk peningkatan kapasitas produksi, lapangan kerja, dan transfer teknologi (ini aspek yang sering kali kurang ditekankan oleh pemain otomotif besar non-Tiongkok),” kata Yannes Martinus Pasaribu kepada Kabari.com, Jumat.
Menurut dia, hadirnya investasi baru dari empat perusahaan itu dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional yang cukup besar. Keempat perusahaan asal Tiongkok tersebut dikabarkan telah menyiapkan dana yang cukup besar pula guna membangun berbagai kebutuhan di sektor otomotif hijau.
Sehingga, Indonesia mendapatkan manfaat untuk melakukan hilirisasi nikel yang banyak sekali dimiliki oleh Indonesia saat ini. Tentu saja, hal ini juga harus diimbangi oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar nantinya bisa jalan berimbang dengan banyaknya investor asing yang masuk.
“Indonesia dapat mempercepat hilirisasi nikel, yang merupakan bahan baku utama baterai EV, sekaligus mendukung target transisi energi hijau pada 2060 melalui peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan transfer teknologi, memungkinkan Indonesia belajar dari keunggulan teknologi Tiongkok,” ujar dia.
Hadirnya investor baru di sektor otomotif asal Tiongkok ini, juga harus menjadi perhatian penting bagi pelaku industri otomotif yang sudah lama menginjakkan kaki mereka di Indonesia, seperti Eropa, Jepang dan juga Korea.
Saat ini, jenama-jenama asal Tiongkok mulai mengikis kekuatan mereka melalui produk, fitur, teknologi dan juga harga yang cukup terjangkau. Di mana, hal tersebut yang menjadi perhatian konsumen otomotif tanah air saat ini.
“Ini memicu pemain-pemain otomotif non-Tiongkok, seperti Eropa, Korea dan Jepang yang sudah sejak lama ada di pasar lokal untuk meningkatkan kualitas dan inovasi produk serta mulai harus berpikir ulang mengenai strategi pricing mereka yang 30 - 60 persen lebih mahal dari produk sekelasnya yang berasal dari Tiongkok,” jelas dia.
Sebelumnya diketahui bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan terdapat empat perusahaan asal Tiongkok akan menanamkan modalnya dan membangun pabrik pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.
Hal tersebut dikatakan oleh Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir di sela-sela kegiatan Global Business Summit on Belt and Road Infrastructure Investment di Jakarta, Minggu (25/5).
Pandu juga melanjutkan bahwa empat perusahaan tersebut memiliki berbagai segmen ketertarikan investasi, seperti pengembangan baterai EV, pusat data, dan layanan konsumen.
"Jadi nanti kita lihat satu per satu," katanya.
Ia menekankan, investasi perusahaan Tiongkok di Indonesia harus tak hanya memberikan dampak ekonomi, melainkan turut berdampak pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pengetahuan teknologi informasi.

0 Comments